Selasa, 17 Februari 2009
PPP Jatim Kian Mantab Bersiap Pemilu 2009
Senin, 16 Februari 2009
PPP Unjuk Visi dan Misi Ekonomi
PPP Sapa Kader di Pemalang Jateng
Ketua DPC PPP Pemalang Muntoha SH MHum dalam siaran persnya mengemukakan, Suryadharma Ali merasa senang dan tertegun karena menyaksikan dengan mata kepala sendiri begitu besarnya massa PPP Pemalang. "Dia sampai kaget ternyata masih banyak masyarakat yang percaya dan bergabung dengan PPP," kata dia Senin (16/2).
Suryadharma datang ke Pemalang dalam rangka menemui kader-kadernya. Sebelumnya dia sempat bertemu dengan Bupati HM Machroes SH dan sejumlah pejabat Pemkab lainnya dalam acara makan siang. Dalam kesempatan itu, menteri memaparkan sejumlah program pembangunan yang memberdayakan masyarakat.
Usai bertemu Bupati, Suryadharma dalam kapasitas sebagai kader NU mengunjungi Gedung NU di Jalan Pemuda Pemalang. Dia ditemui Ketua PC NU H Aunurrofiq SH dan pengurus lainnya serta nahdliyin lainnya.
Dia kemudian menemui lebih dari 10.000 kader PPP untuk membakar semangat dalam meraih kemenangan pada Pemilu 2009 ini. Puluhan Ribu massa PPP itu berdatangan dari berbagai pelosok Kabupaten Pemalang dengan mengendari kendaran bak terbuka mobil pribadi, serta mereka yang tinggal di lingkungan lapangan memilih jalan kaki. (ali)
Sabtu, 14 Februari 2009
Caleg DPR RI PPP Mustofa M Bong , Andalkan Marga
Mustafa mengakui marga Bong yang melekat pada dirinya merupakan salah satu modal besar dalam upaya menjaring pemilih dari kalangan pemilih Tionghoa.
"Marga Bong itu kalau dalam masyarakat Cina merupakan marga tertinggi. Raja diraja, king of the king, sehingga Cina dari marga lain akan memberikan dukungan kepada orang yang memiliki marga Bong," ujarnya.
Ia menyebutkan sejumlah tokoh dari kalangan masyarakat Mandarin sudah menyatakan akan memberikan dukungan. Tokoh dimaksud berasal dari kalangan pengusaha, mahasiswa, dan para aktivis sosial lainnya. "Saya tidak punya strategi khusus untuk menjaring suara mereka, tapi saya yakin mereka hanya memilih orang-orang yang berasal dari marga yang jelas," katanya.
Jumat, 13 Februari 2009
Ketika Akar Rumput PPP "Curhat"
Keinginan menjadi seorang pemimpin di sebuah desa, niscaya akan terwujud jika didukung oleh seluruh rakyat, namun di Indramayu, kondisinya berbeda. Meski mendapat dukungan mayoritas, sang calon dengan mudah dijegal oleh aparat pemerintah setempat.
Hal tersebut dialami oleh calon kepala desa di sebuah desa di Indramayu, sebut saja Suparno. Suparno yang terjun ke dunia politik di desa kecil itu, berkisah pernah berniat mencalonkan diri menjadi kepala desa setempat (kuwu), namun karena kiprah politiknya selalu tak sejalan dengan sang penguasa daerah, maka saat pendaftaran calon pun dirinya dijegal.
"Karena beda paham politiknya, saat akan mendaftar kuwu malah tidak diperbolehkan oleh panitia dari kecamatan dengan alasan syarat tidak mendukung," ujar Suparno, Jumat (13/2/2009).
Dirinya yang berbeda paham politik sejak kepemimpinan Bupati H Ope Mustopa, selalu menjadi alat politik bagi lawan-lawan politik di Kota Mangga ini, di mana saat memasuki era tahun 2000-an sang pemimpin baru yang membawa perubahan signifikan tersebut, membuat masyarakat telena.
"Saya memang melihat saat itu ada perubahan signifikan, tetapi masyarakat jadinya terlena karena hal itu," ujar Suparno.
Tapi hal itu harus dibayar jika setiap menjelang pemilu. Para pegawai, baik PNS maupun perangkat desa di lingkungan Kabupaten Indramayu, dengan mudah ditekan-tekan agar memilih partai yang sang bupati.
"Kecenderungan ini terlihat ketika pemilu 2004, di mana saya yang mempunyai basis masa Islam dari PPP, diminta oleh kuwu (kades) pada waktu itu agar mencoblos Golkar. Bukan tidak mungkin kalau ajakan sang kades tersebut disuruh oleh Bupatinya," ungkap Suparno.
Suparno melihat, Kota Mangga kini menjadi kota yang berpaham Kuning, karena Golkar begitu mendominasi. Terlebih saat Pilgub Jabar tahun 2008 lalu. Indramayu menjadi kota dengan perolehan suara Golkar terbesar yakni 73%.
"Pilgub Jabar kemarin, penekanan tersebut terlhat ketika para guru-guru dan PNS lainnya dikumpulkan melalui suatu acara yang bersifat arahan dari Bupati dilakukan di beberapa tempat, bahkan hinggga kini kegiatan semacam itu masih berlangsung," ungkap Suparno seraya menambahkan, jika seluruh aparatur pemerintah tidak mengikuti aturan sang Bupati maka akan ditegur atau bahkan dipindahtugaskan.
"Banyak para PNS yang dimutasi akibat tidak mendukung kebijakan bupati, atau bahkan tidak sejalan dengan payung parpolnya, maka akan dimutasi," ujarnya. Sehingga dirinya melihat sejak memasuki era reformasi, Kota Mangga kini menjadi Kota yang tidak jelas dinamika politiknya karena banyak intrik dan perkembangan politik yang tidak sehat.
"Saya sudah lama hidup dan bahkan lahir di Indramayu, tetapi untuk masalah hak politik biarkan rakyat yang memilih, tanpa harus ada intimidasi dari pemerintah daerah," ungkap Suparno.
Suparno juga menanggapi adanya iklan partai Golkar di Indramayu yang kontroversial. Menurut dia masyarakat Indramayu tidak lah bodoh dan gampang ditakut-takuti dengan dalih agama.
"Delengen bae ko gah, rayat kang nilai mah, politik kuh ora usah dipaksa mas (Lihat saja nanti, biarkan rakyat yang menilai, kalau urusan politik jangan dipaksa-paksa)," tandas Suparno semangat.
Kamis, 12 Februari 2009
H. Muhammad Rodja: Keluarganya Pernah Menampung Bung Karno
Ia sangat familiar di kalangan aktivis gerakan buruh di Tanah Air. Keterlibatannya sebagai aktivis hingga menata karir sebagai anggota DPRD DKI tak lepas dari ayahnya yang juga seorang aktivis dan pendiri NU Cabang Ende di Pulau Flores. “Keberhasilan ini berkat inspirasi ayah dan ibu serta saudara-saudara saya,” kata H. Muhammad Rodja.
MENTAL tahan banting dalam menjalani hidup bagi sebagian besar orang Flores di mana saja berada, sudah pasti tertanam dalam hati. Apalagi, sudah memutuskan untuk merantau guna mencari pengalaman atau meningkatkan taraf hidupnya. Apalagi, semangat juang yang dimiliki kebanyakan orang Ende sepertinya sudah tertanam sejak jaman penjajah.
“Khusus orang Ende, darah untuk melawan penjajah itu sudah ada sejak dahulu. Dulu perlawanan melawan penjajah dilakukan ayah saya H. Abdulrahman Rodja dan ayah Pak H. Muhyidin Aroeboesman. Kita tahu, Pak Muhyidin saat ini salah satu pengurus Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU). Sedangkan ayah saya itu bekas anggota DPRD Kabupaten Ende periode pertama. Nah, saya mendapat cerita ayah bagaimana mereka berjuang melawan Belanda,” kata Pak Rodja –sapaan akrab H. Muhammad Rodja– kepada FLORES POS di kediamannya, Jakarta Selatan.
Pria kelahiran Ende, Flores, 7 September 1946 ini memiliki catatan panjang dalam dunia pergerakan dan politik. Diakuinya, ia sudah terlibat aktif dalam jagad politik lokal sejak masih kecil. Bahkan, diakuinya, udara pergerakan bukan hal baru di lingkungan keluarga besarnya, Rodja. Ayahnya, Abdulrahman Rodja, juga berkawan karib dengan sejumlah petinggi negara saat itu.
Abdulrahman Rodja, misalnya, adalah orang dekat Dr Sutomo saat meletus insiden 10 November di Surabaya, Jawa Timur yang akhirnya tanggal tersebut ditetapkan sebagai Hari Pahlawan. Kemudian, pada 1958, ayah Rodja juga mendirikan Nahdlatul Ulama (NU) Cabang Ende.
“Sebelumnya, salah satu rumah keluarga kami juga dijadikan tempat penampungan Bung Karno saat dibuang Belanda di Ende. Peristiwa ini menjadi sejarah yang tak pernah kami lupakan selama hidup. Kami bangga karena seorang Bung Karno berkenan tinggal di rumah keluarga kami,” kata Rodja bangga.
Terlibat di Partai Politik
Sebagaimana orang Flores umumnya, banyak juga yang terlibat di pentas politik nasional daerah maupun nasional. Sebut saja Frans Seda, Sonny Keraf, Benny Harman, Anton A Mashur, Jacob Nuwa Wea, Cypri Aur, dan lain-lain. Begitu juga Rodja yang merintis karir di orgaanisasi mulai dari bawah. Dalam sebuah buku karyanya, dikisahkan Rodja muda sudah menjadi Sekretaris Partai Politik (Parpol) Nahdlatul Ulama Cabang Ende. Padahal, saat itu usianya baru merambat ke angka 20 tahun. Kematangan organisasi yang ia dapat di kampung memudahkannya saat masuk Jakarta.
Nah, setelah tamat di SPG Negeri Ende tahun 1966, ia masuk Fakultas Hukum (FH) Universitas Islam Jakarta. Di situ ia aktif sebagai anggota Resimen Mahasiswa dan kemudian tahun 1968–1971 menjadi pelatih Resimen Mahajaya.
Sejak hijrah ke Jakarta, kegiatannya di Perhimpunan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) bermula dan terakhir menjadi Ketua Pengurus Besar (PB) PMII periode 1978–1981. Periode waktu yang sama dipercaya menjadi Ketua DPP Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI).
Kemudian, pada 1972–1974 ia menjabat Wakil Sekretaris Nahdlatul Ulama Wilayah DKI. Setelah NU memfusikan kegiatan politiknya ke Partai Persatuan Pembangunan (PPP) tahun 1973, Rodja hanya menjadi Sekretaris DPC PPP Jakarta Selatan tahun 1974–1979.
Dalam menitik kariernya di bidang politik, ia punya filosofi bahwa seorang politikus kalau mau besar harus merangkak dari bawah. Kepercayaan pun terus diberikan. Ia pernah menjadi Wakil Ketua DPC Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Jakarta Selatan. “Kemudian pada periode 1984–1989 saya dipercaya menjadi Ketua DPC PPP Jakarta Selatan. Ini buah kerja keras yang saya tunjukkan selama aktif di organisasi politik,” jelas Rodja.
Anggota DPRD DKI
Berkat komitmen dan kerja keras, karir politiknya terus bersinar. Pasalnya, saat di DPC PPP Jakarta Selatan, ia masuk menjadi anggota DPRD DKI tahun 1987. Sebelum melangkah ke Kebon Sirih (kantor DPRD DKI), pada 1990–1995 ia menjadi Sekretaris DPC PPP DKI Jakarta. Saat menjadi anggota DPRD DKI 1987, ia duduk sebagai Ketua Komisi B. Komisi ini membidangi keuangan dan kekayaan daerah. Kemudian ia menjadi anggota Komisi D yang membidangi pembangunan.
Rodja termasuk telaten mengurus organisasi. Hal ini dilakukan saat masih di Ende. Saat memulai aktivitas bidang kepemudaan, ia juga termasuk orang yang memprakarsai berdirinya Gerakan Pemuda Anshor Cabang Ende pada 30 September 1965. Dalam buknya, dikisahkan Rodja memobilisasi pemuda Ende untuk menumpas PKI di wilayah itu. Berkat prestasinya itu, Rodja mendapat Tanda Penghargaan dari Kopkamtib Kabupaten Ende, Ngada, dan Manggarai pada 1 Februari 1967.
Dunia buruh bukan lagi hal baru. Berbagai jabatan di organisasi perburuhan Tanah Air pernah dipegangnya. Ia pernah duduk sebagai Wakil Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Sektor Sandang dan Kulit periode 1990–1995. Posisi ini mengantar Rodja menjadi pembicara dan peserta berbagai seminar dalam dan luar negeri. Rodja, pernah menjadi ketua delegasi Indonesia dalam seminar Pemuda Asia Pasifik di Tokyo, Jepang tahun 1979.
Di lain sisi, bakat menulis pun terus diasahnya. Berbagai artikel opini menghiasi majalah dan surat kabar yang terbit di Jakarta. Misalnya, Panji Masyarakat, Bisnis Indonesia, Media Indonesia, Pelita, Angkatan Bersenjata, Berita Buana, Suara Pembaruan, Harian Terbit, Berita Yudha, dan lain-lain.
Ayah tiga anak hasil pernikahan dengan Hj. Cholilah binti Haji Muhammad Dien ini juga menaruh perhatannya pada masalah buruh. Sekadar tahu, Bu Hj. Cholilah binti Haji Muhammad Dien juga seorang aktivis. Ia pernah menjadi pengurus PB Muslimat NU dan Wakil Ketua DPC PPP Jakarta Selatan.
“Orang-orang Flores sebenarnya punya kemampuan intelektual luar biasa. Sekarang tinggal mereka mengambil bagian dalam berbagai kegiatan untuk menempah dirinya. Ya, satu saat kita juga bisa memiliki orang-orang setenar nama Pak Frans Seda atau Pak Haji Muhyidin Aroeboesman. Kita punya kemampuan, kok,” katanya. (Ansel Deri)
Fadly Nurzal : PPP tidak akan durhaka pada umat
"Peka, peduli dan reaktif terhadap kepentingan umat adalah tampilan hari-hari yang secara konsisten harus kita lakukan. Aspirasi dan kepentingan umat tentu juga berbeda-beda, karena itu kita harus santun menanggapi aspirasi itu, jangan sampai umat terabaikan," kata Fadly Nurzal pada acara silaturahmi dengan masyarakat dan tokoh agama di kecamatan Bajenis Kota Tebing Tinggi baru-baru ini didampingi Ketua DPC PPP Tebing Tinggi, Safrizal.
Lebih lanjut Fadly menyebutkan, PPP ini adalah partai tertua yang telah melewati terjalnya tebing politik dan tajamnya karang demokrasi dari satu fase ke fase berikutnya. Namun, PPP masih tetap eksis dan dapat melayani umat karena di tubuh PPP mengalir keikhlasan para ulama pendirinya serta kader-kadernya. Ini adalah potensi yang harus senantiasa lestari di tubuh PPP.
"Karena itu kepada masyarakat di Tebing Tinggi kami mohon doa, nasehat serta dukungan terhadap perjalanan partai ini," ucapnya.
Sutiyem mengakui, kader-kader PPP saat ini memperlihatkan keikhlasan dalam berjuang membela kepentingan umat dan mereka tampil sederhana. Tampilan inilah yang kemudian membuat masyarakat simpatik kepada partai yang berlambangkan ka'bah ini.
"Contohnya Pak Fadly yang sejak dulu saya kenal selalu apa adanya dan tetap ramah walau sudah menjadi anggota DPRD," ucap Sutiyem yang sehari-hari berjualan keripik.
